Ilmuwan Yang Gak Punya Buku Sains

Lebih tepatnya “sedikit” buku sains dan pengetahuan di dalam perpustakaan miliknya.

Pak Habibie terkenal sebagai Bapak Teknologi Indonesia, tapi kenapa perpustakaan di rumah dinasnya di Jakarta sedikit banget buku tentang sains?

Itu yang jadi pertanyaan gue pas menghadiri Tour Sejarah Wisma Habibie & Ainun, 1 Agustus 2026.

Sebelumnya, gue diajak keliling dulu ke setiap ruangan di wisma tersebut.

Ada lobi dengan banyak ukiran suku-suku dan agama-agama di Indonesia. Jembatan diantara 2 kolam Ikan dengan kaca transparan seperti kisah Nabi Musa membelah lautan dan akhirnya sampailah di perpustakaan beliau.

Maaf, fotonya berantakan, tapi kalian bisa ngebayangin lah ya.
Ya Allah, pingin banget punya perpustakaan sebagus ini.

Ada yang tau kenapa gak ada buku teknologi atau sains di perpustakaan ini?” Ucap tour guide.

Gue diem. Karena emang gak tau. Ngapain harus sok tahu?

Ternyata semua peserta juga diem.

Karena beliau ingin memahami manusia. Memahami budaya. Memahami sosial.

Oke menarik, pikir gue.

Beliau ingin belajar kepada siapa kita memberikan, takutnya pemberian kita tidak sesuai.

Gue berusaha mencerna omongan itu.

Artinya, sebelum membuat sesuatu yang berguna, kita harus survey dulu dong apa yang dibutuhin dan diinginkan masyarakat?

Bukankah ini mirip dengan teori marketing atau bisnis?

Kan kalau mau bikin bisnis, pastiin dulu produknya dibutuhkan sama orang-orang biar pada beli.

si tour guide melanjutkan.

Dan seperti kata beliau, pengetahuan tanpa cinta itu bahaya, cinta tanpa pengetahuan itu sia-sia.

Ah I see.

Ternyata artinya lebih dari sekedar teori marketing dan bisnis.

Wait, I start getting the point and the relation!

FYI, Gue mengidolakan tokoh teknologi lainnya macam Steve Jobs atau Elon Musk. Gue juga tau tokoh intelektual dan teknologi terkenal lainnya macam Alan Turing, Stephen Hawking atau bahkan Albert Einstein.

Dan coba kalian cari deh kisah cinta dan pernikahan mereka. Apakah berjalan dengan baik?

Satu-satunya tokoh intelektual dan teknologi yang sangat bisa gue teladani hanya Pak Habibie. Yah walau gue gak bakal sepinter beliau sih.

Gue setiap kali pelajaran Fisika

Karena beliau gak hanya berbicara masalah teknologi atau penemuan, tapi beliau juga berbicara tentang cinta dan kemanusiaan.

Ah itulah kenapa beliau lebih banyak menyimpan buku tentang manusia, budaya dan sosial di perpustakaan pribadi ini.

Beliau ingin mengingatkan kita bahwa pada akhirnya semua ilmu harus dipadukan dengan perasaan, empati dan cinta agar tidak berbahaya dan tidak sia-sia.

Ah senangnya bisa memahami hal ini.

Karena beliau juga lah, gue berani bermimpi punya pasangan seperti Eyang Ainun. Perempuan cerdas yang selalu mendukung suaminya. Uhuy!

Dan kalau gue mau dapet perempuan sekelas Eyang Ainun, maka gue harus sekelas Eyang Habibie. Ekhm.

Dan karena gue sadar diri gue gak sepintar mereka berdua, setidaknya gue menggenggam teguh nilai dan cita-cita mereka. Asek! Kayak orang bener aja gue!

Rispek Eyang! Aku akan menjadi cucu intelektual itu!

Dan karena gue punya cita-cita seperti mereka, lahirlah tulisan ini.

Huhu, sedih sih.

Bayangin, Beliau melahirkan sebuah rumus biar pesawat gak jatuh, sementara gue melahirkan sebuah tulisan biar mental gue gak jatuh.

Sedang merenungi nasib kenapa gue gak sehebat Pak Habibie

Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *